Kamis, 21 Februari 2019

Biografi syaikh umar baradja

Syaikh Umar bin Achmad Baradja lahir di kampung Ampel Maghfur, pada 10 Jumadil Akhir 1331 H/17 Mei 1913 M. Sejak kecil dia diasuh dan dididik kakeknya dari pihak ibu, Syaikh Hasan bin Muhammad Baradja , seoarang ulama ahli nahwu dan fiqih. Nasab Baradja berasal dari (dan berpusat di) Seiwun, Hadramaut, Yaman. Sebagai nama nenek moyangnya yang ke-18, Syaikh Sa’ad, laqab (julukannya) Abi Raja’ (yang selalu berharap). Mata rantai keturunan tersebut bertemu pada kakek Nabi Muhammad SAW yang kelima , bernama Kilab bin Murrah. Pada masa mudanya, Umar Baradja menuntut ilmu agama dan bahasa Arab dengan tekun, sehingga dia menguasai dan memahaminya. Berbagai ilmu agama dan bahasa Arab dia dapatkan dari ulama, ustadz, syaikh, baik melalui pertemuan langsung maupun melalui surat. Para alim ulama dan orang-orang shalih telah menyaksikan ketaqwaan dan kedudukannya sebagai ulama yang ‘amil. Ulama yang mengamalkan ilmunya. Dia adalah salah seorang alumnus yang berhasil, didikan madrasah Al-Khairiyah di kampung Ampel, Surabaya, yang didirikan dan dibina Al-habib Al-Imam Muhammad bin Achmad Al-Muhdhar pada 1895. Sekolah yang berasaskan Ahlussunnah wal Jama’ah dan bermadzhab Syafi’i. Guru-guru Syaikh Umar Baradja, antara lain, Al-Ustadz Abdul Qodir bin Ahmad bil Faqih (Malang), Al-Ustadz Muhammad bin Husein Ba’bud (Lawang), Al-Habib Abdul Qodir bin Hadi Assegaf, Al-Habib Muhammad bin Ahmad Assegaf (Surabaya), Al-Habib Alwi bin Abdullah Assegaf (Solo), Al-Habib Ahmad bin Alwi Al-Jufri (Pekalongan), Al-Habib Ali bin Husein Bin Syahab, Al-Habib Zein bin Abdullah Alkaf (Gresik), Al-Habib Ahmad bin Ghalib Al-Hamid (Surabaya), Al-Habib Alwi bin Muhammad Al-Muhdhar (Bondowoso), Al-Habib Abdullah bin Hasa Maulachela, Al-Habib Hamid bin Muhammad As-Sery(Malang), Syaikh Robaah Hassunah Al-Kholili (Palestina), Syaikh Muhammad Mursyid (Mesir) – keduanya tugas mengajar di Indonesia. Guru-gurunya yang berada di luar negeri diantaranya, Al-Habib Alwi bin Abbas Al-Maliki, As-Sayyid Muhammad bin Ami n Al-Quthbi, As-Syaikh Muhmmad Seif Nur, As-Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyath, Al-Habib Alwi bin Salim Alkaff, As-Syaikh Muhammad Said Al-Hadrawi Al-Makky (Mekkah), Al-Habib Muhammad bin Hady Assegaf(Seiwun, Hadramaut, Yaman), Al-Habib Abdullah bin Ahmad Al-Haddar, Al-Habib Hadi bin Ahmad Al-Haddar (‘inat, Hadramaut, Yaman) , Al-habib Abdullah bin Thahir Al-Haddad (Geidun, Hadaramaut, Yaman), Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiri (Tarim, Hadramaut, Yaman), Al-Habib Hasan bin Ismail Bin Syeikh Abu Bakar (‘inat, Hadramaut, Yaman), Al-Habib Ali bin Zein Al-Hadi, Al-Habib Alwi bin Abdullah Bin Syahab (Tarim, Hadramaut, Yaman), Al-Habib Abdullah bin Hamid Assegaf (Seiwun, Hadramaut, Yaman), Al-Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddar (Al-Baidhaa, Yaman) , Al-Habib Ali bin Zein Bilfagih (Abu Dhabi, Uni Emirat Arab), As-Syaikh Muhammad Bakhit Al-Muthii’i (Mesir), SayyidiMuhammad Al-Fatih Al-Kattani (Faaz, Maroko), Sayyidi Muhammad Al-Munthashir Al-Kattani (Marakisy, Maroko) , Al-Habib Alwi bin Thohir Al-Haddad (Johor, Malaysia), Syeikh Abdul ‘Aliim As-Shiddiqi (India), Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf (Mesir), Al-Habib Abdul Qodir bin Achmad Assegaf (Jeddah, Arab Saudi). Kiprah Dakwah Syaikh Umar mengawali kariernya mengajar di Madrasah Al-Khairiyah Surabaya tahun 1935-1945, yang berhasil menelurkan beberapa ulama dan asatidz yang telah menyebar ke berbagai pelosok tanah air. Di Jawa Timur antara lain, almarhum al-ustadz Achmad bin Hasan Assegaf, almarhum Al-Habib Umar bin Idrus Al-Masyhur, almarhum al-ustadz Achmad bin Ali Babgei, Al-habib Idrus bin Hud Assegaf, Al-habib Hasan bin Hasyim Al-Habsyi, Al-habib Hasan bin Abdul Qodir Assegaf, Al-Ustadz Ahmad Zaki Ghufron, dan Al-Ustadz Dja’far bin Agil Assegaf. Kemudian, dia pindah mengajar di Madrasah Al-Khairiyah, Bondowoso. Berlanjut mengajar di Madrasah Al-Husainiyah, Gresik tahun 1945-1947. Lalu mengajar di Rabithah Al-Alawiyyah, Solo, tahun 1947-1950. Mengajar di Al-Arabiyah Al-Islamiyah, Gresik tahun 1950-1951. Setelah itu, tahun 1951-1957, bersama Al-habib Zein bin Abdullah Al-kaff, memperluas serta membangun lahan baru, karena sempitnya gedung lama, sehingga terwujudlah gedung yayasan badan wakaf yang di beri nama Yayasan Perguruan Islam Malik Ibrahim. Selain mengajar di lembaga pendidikan, Syaikh Umar juga mengajar di rumah pribadinya, pagi hari dan sore hari, serta majelis ta’lim atau pengajian rutin malam hari. Karena sempitnya tempat dan banyaknya murid, dia berusaha mengembangkan pendidikan itu dengan mendirikan Yayasan Perguruan Islam atas namanya, Al-Ustadz Umar Baradja. Ini sebagai perwujudan hasil pendidikan dan pengalamannya selama 50 tahun. Hingga kini masih berjalan, dibawah asuhan putranya, Al-Utadz Achmad bin Umar Baradja. Amal ibadahnya meluas ke bidang lain, sehingga memerlukan dana yang cukup besar, dia juga menggalang dana untuk kebutuhan para janda, fakir miskin, dan yatim piatu khususnya para santrinya, agar mereka lebih berkonsentrasi dalam menimba ilmu. Menjodohkan wanita-wanita muslimah dengan pria muslim yang baik menurut pandangannya, sekaligus mengusahakan biaya perkawinannya dengan dukungan dana dari Al-habib Idrus bin Umar Alaydrus. Salah satu karya monumentanya adalah membangun Masjid Al-Khair (danakarya I-48/50, Surabaya) pada tahun 1971, bersama KH. Adnan Chamim, setelah mendapat petunjuk dari Al-Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul) dan Al-habib Zein bin Abdullah Al-Kaff (Gresik). Masjid ini sekarang digunakan untuk berbagai kepentingan dakwah masyarakat Surabaya. Penamplan Syeikh Umar sangat bersahaja, tetapi dihiasi sifat-sifat ketulusan niat yang disertai keikhlasan dalam segala amal perbuatan duniawi dan ukhrawi. Dia juga mejabarkan akhlaq ahlul bait, keluarga Nabi dan para sahabat, yang mencontoh baginda Nabi Muhammad SAW. Dia tidak suka membangga-banggakan diri, baik tentang ilmu, amal, maupun ibadah. Ini karena sifat tawadhu’ dan rendah hatinya sangat tinggi. Dalam beribadah, dia selalu istiamah baik sholat fardhu maupun sholat sunnah qabliyah dan ba’diyah. Sholat dhuha dan tahajud hampir tidak pernah dia tnggalkan walaupun dalam bepergian. Kehidupannya dia usahakan untuk benar-benar sesuai dengan yang digariskan agama. Cintanya kepada keluarga Nabi SAW dan dzurriyyah atau keturunannya, sangat kenal tak tergoyahkan. Juga kepada para sahabat anak didik Rasulullah SAW. Itulah pertanda keimanan yang teguh dan sempurna. Dalam buku Kunjungan Habib Alwi Solo kepada Habib Abubakar Gresik,Catatan Habib AbdulKadir bin Hussein Assegaf (Penerbit Putra Riyadi : 2003), disebutkan,”… kami (rombongan Habib Alwi bin Alwi Al-Habsyi) berkunjung ke rumah Syaikh Umar bin Ahmad Baradja (di Surabaya). Kami dengar saking senangnya, ia sujud syukur di kamar khususnya. Ia meminta Sayyidi Alwi untuk membacakan doa dan Fatihah.”(hlm.93). Sifat wara’-nya sangat tinggi. Perkara yang meragukan dan syubhat dia tinggalkan, sebagaimana meninggalkan perkara-perkara yang haram. Dia juga selalu berusaha berpenampilan sederhana. Sifat Ghirah Islamiyah (semangat membela Islam) dan iri dalam beragama sangat kuat dalam jiwanya. Konsistensinya dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, misalnya dalam menutup aurat, khususnya aurat wanita, dia sangat keras dan tak kenal kompromi. Dalam membina anak didiknya, pergaulan bebas laki-perempuan dia tolak keras. Juga bercampurnya murid laki-dan perempuan dalam satu kelas. Pada saat sebelum mendekati ajalnya, Syaikh umar sempat berwasiat kepada putra-putra dan anak didiknya agar selalu berpegang teguh pada ajaran assalaf asshalih. Yaitu ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, yang dianut mayoritas kaum muslim di Indonesia dan Thariqah ‘Alawiyyah, dan bermata rantai sampai kepada ahlul bait Nabi, para sahabat, yang semuanya bersumber dari Rasulullah SAW. Syaikh Umar memanfaatkan ilmu, waktu, umur, dan membelanjakan hartanya di jalan Allah sampai akhir hayatnya. Ia memenuhi panggilan Rabb-nya pada hari Sabtu malam Ahad tanggal 16 Rabiuts Tsani 1411 H/3 November 1990 M pukul 23.10 WIB di Rumah Sakit Islam Surabaya, dalam usia 77 Tahun. Keesokan harinya Ahad ba’da Ashar, ia dimakamkan, setelah dishalatkan di Masjid Agung Sunan Ampel, diimami putranya sendiri yang menjadi khalifah (penggantinya), Al-Ustadz Ahmad bin Umar Baradja. Jasad mulia itu dikuburkan di makam Islam Pegirian Surabaya. Prosesi pemakamannya dihadiri ribuan orang. Sumber: Majalah AlKisah No. 07/Tahun V/26 Maret – 8 April 2007 Hal. 85-89 (http://ppalghozaliyah.blogspot.co.id/2014/06/biografi-syaikh-umar-baraja-pengarang.html) Jam 14:08 Tanggal 29 Juni 2016 di Banjarnegara

Jumat, 22 Juni 2018

Biografi Gusdur .kh abdurrahman wahid


KOMPAS.com - Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan Gus Dur menjabat sebagai Presiden keempat Republik Indonesia setelah dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 1999.
Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 7 September 1940.
Ketika lahir, ia diberi nama Abdurrahman Addakhil. Nama "Addakhil" mempunyai makna sang penakluk.
Kemudian, nama belakangnya diubah menjadi "Wahid", dan akhirnya lebih kerap dipanggil dengan Gus Dur.
"Gus" sendiri merupakan panggilan kehormatan yang ditujukan untuk seorang anak kiai yang berarti "Mas".
Pada 1944, Gus Dur pindah dari Jombang ke Jakarta mengikuti ayahnya yang terpilih sebagai Ketua Partai Masyumi.
Baca juga: INFOGRAFIK Serial Presiden: BJ Habibie
Ayah Gus Dur, yang pernah menjabat Menteri Agama, mendorongnya untuk gemar membaca berbagai buku, majalah, dan koran.
Kebiasaan ini membuat wawasannya semakin luas.
Pada 1954, us Dur malanjutkan pendidikan SMP ke Yogyakarta. Pendidikan agama diperdalamnya dari pesantren hingga belajar ke berbagai ulama.
Pada 1963, Gur Dur melanjutkan studi ke Mesir. Akan tetapi, karena kondisi tertentu, ia sempat pindah ke Irak, dan melanjutkan pendidikan ke Jerman dan Perancis.

ABDURRAHMAN WAHID
Setelah kembali ke Indonesia pada 1971, Gus Dur bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi (LP3ES).
Ia juga sempat menapaki karier sebagai jurnalis.
Perjalanan karier politiknya dimulai ketika ia kembali ke Jombang.
Gus Dur bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU). Pada Pemilu Legislatif 1982, Gus Dur berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Baca juga: Sejarawan Inggris: Gus Dur dan Ahok seperti Soekarno dan Diponegoro
PPP merupakan hasil gabungan dari empat organisasi Islam termasuk NU. Oleh karena itu, kontribusi terhadap NU sangat dibutuhkan.
Pada Musyawarah Nasional NU 1984, Gus Dur terpilih sebagai Ketua PBNU.
Ia menerima jabatan ini dengan syarat mendapat wewenang penuh untuk memilih pengurus yang akan bekerja di bawahnya.
Terpilihnya Gus Dur sebagai Ketua PBNU disambut positif oleh Soeharto.
Memimpin Indonesia
Setelah Soeharto mundur dari jabatannya sebagai presiden, iklim politik Indonesia berubah.
Di bawah kepemimpinan Habibie, kebebasan berpolitik lebih luas.
Partai-partai politik mulai bermunculan.

Baca juga: INFOGRAFIK Serial Presiden: Soeharto
Pada Juli 1998, Gus Dur menyetujui usulan dari para kader NU untuk membentuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Pada Juni 1999, PKB ambil bagian dalam pemilu legislatif dengan raihan suara 12 persen.
Namun, perolehan suara PKB kurang bisa memberikan pengaruh bagi pencalonan presiden.
Pada 7 Oktober 1999, Amien Rais dan Poros Tengah resmi mencalonkan Gus Dur sebagai calon presiden.
Pada 19 Oktober 1999, MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie.
Pada 20 Oktober 1999, Gus Dur terpilih sebagai presiden. Sementara, Megawati sebagai wakil presiden.
Pemerintahan Gus Dur-Mega membentuk Kabinet Persatuan Nasional, dengan koalisi PDI-P, PKB, Golkar, PPP, PAN, dan Partai Keadilan (PK).
Baca juga: INFOGRAFIK Serial Presiden: Soekarno
Sejumlah kebijakan baru digagas Gus Dur di awal pemerintahannya, di antaranya pembubaran Departemen Penerangan dan Departemen Sosial.
Akhir Kepemimpinan
Akhir 2000, ketidakpuasan terhadap Gus Dur ditunjukkan oleh kalangan politik.
Dari DPR, sejumlah protes dilancarkan.
Gus Dur meminta Menko Polsoshukam untuk menyatakan keadaan darurat.
Namun, permintaan ini tidak digubris dan Gus Dur memecat Menko Polsushukam yang saat itu dijabat oleh Susilo Bambang Yudhoyono.
Menanggapi berbagai pemecatan yang dilakukan Gus Dur, Amien Rais yang saat itu menjabat Ketua MPR, meminta sidang istimewa MPR dimajukan.
Gus Dur kemudian mengumumkan pemberlakuan dekrit yang salah satu isinya adalah pembubaran MPR/DPR.
Dekrit tersebut tidak memperoleh dukungan.
Pada 23 Juli 2001, anggota DPR melayangkan protes dan dan tercatat 151 anggota DPR menandatangani petisi meminta pemakzulan terhadap Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Soekarnoputri.


PERJALANAN KARIER:
Pekerjaan:
- Guru Madrasah Mu'allimat, Jombang ( 1959 - 1963 )
- Dosen Universitas Hasyim Asyhari, Jombang ( 1972 - 1974 )
- Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asyhari, Jombang ( 1972 - 1974 )
- Sekretaris Pesantren Tebuireng, Jombang ( 1974 - 1979 )
- Konsultan di berbagai Lembaga dan Departemen ( 1976 )
- Pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta ( 1976 )
Pemerintahan :
- Presiden RI ( 1999 - 2001 )
Legislatif :
- MPR dari Utusan Golongan ( 1987 - 1992 )
- MPR dari Utusan Golongan ( 1999 - 2004 )

Kegiatan Lain:
- Ketua Umum Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Yogyakarta
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Ceko
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Brussel, Belgia
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke India
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Korea Selatan
- Peseta dalam Menghadiri Pertemuan UNCTAD, Thailand
- Anggota Dewan Pendiri Shimon Peres Peace Center, Tel Aviv, Israel
- Pendiri Forum 2000 (Organisisasi yang mementingkan Hubungan Antaragama)
- Wakil Ketua Kelompok Tiga Agama yaitu Islam, Kristen dan Yahudi yang di bentuk di Universitas Al Kala, Spanyol
- Peseta dalam Menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Selatan (South Summit), Havana, Kuba
- Juri Festival Film Indonesia (FFI)
- Ketua Kelompok Kerja Forum Demokrasi
- Anggota Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) ( 1979 - 1984 )
- Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) Dewan Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM) ( 1983 - 1985 )
- Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ( 1984 - 1989 )
- Ketua Tanfidziyah PBNU ( 1989 - 1994 )
- Ketua Tanfidziyah PBNU ( 1994 - 1999 )
- Ketua Dewan Internasional Konferensi Dunia bagi Agama dan Perdamaian (World Conference on Religion and Peace-WCRP), Italia ( 1994 )
- Anggota Badan Penasihat Forum Kerja Indonesia ( 1998 )
- Anggota Dewan Penasihat Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (AMNU) ( 1998 - 2000 )
- Anggota Pembentuk Koalisi Gerakan Demokrasi ( 1998 )
- Ketua Dewan Maritim Indonesia (DMI) ( 1999 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Malaysia ( 1999 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Singapura ( 1999 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Myanmar ( 1999 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Thailand ( 1999 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Laos ( 1999 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Kamboja ( 1999 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Vietnam ( 1999 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Filipina ( 1999 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Amerika Serikat ( 1999 - 1999 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Jepang ( 1999 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Kuwait ( 1999 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Yordania ( 1999 )
- Peserta Menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Informal ke-3 ASEAN, Filipina ( 1999 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Jeddah dan Riyadh, Arab Saudi ( 1999 - 1999 )
- Peserta Kunjungan Resmi ke Cina ( 1999 - 1999 )
- Peserta Menghadiri KTT Milenium PBB, New York ( 2000 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Geneva, Swiss ( 2000 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke London, Inggris ( 2000 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Perancis ( 2000 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Belanda ( 2000 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Itali, Vatikan ( 2000 )
- Ketua Tanfidziyah PBNU ( 2000 - 2005 )
- Ketua Dewan Syuro PKB ( 2000 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Johannesburg, Afrika Selatan ( 2000 )
- Peserta Kunjungan tidak Resmi ke Cancun, Meksiko ( 2000 )
- Ketua Umum Dewan Syuro PKB hasil Muktamar II, Semarang ( 2005 - 2010 )

Publikasi:
- Buku: Bunga Rampai Pesantren. Penerbit : Dharma Bhakti, Jakarta ( 1979 )
- Buku: Muslim di Tengah Pergumulan. Penerbit : Leppenas, Jakarta ( 1981 )

Penghargaan:
- Bintang Tanda Jasa Kelas 1, Bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan dari Pemerintah Mesir
- Ramon Magsaysay
- Pin Penghargaan Keluarga Berencana dari Perhimpunan Keluarga Berencana I
- Bintang Mahaputera Utama dari Presiden RI BJ Habibie
- Gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Jawaharlal Nehru, India
- Gelar Doktor Honoris Causa, Bidang Perdamaian dari Soka University Jepang ( 2000 )
- Global Tolerance Award dari Friends of the United Nations, New York ( 2003 )
- Presiden World Headquarters on Non-Violence Peace Movement ( 2003 )
- World Peace Prize Award dari World Peace Prize Awarding Council (WPPAC), Seoul, Korea Selatan ( 2003 )
- Penghargaan dan kehormatan dari Temple University, Philadelphia, Amerika Serikat, yang memakai namnya untuk penghargaan terhadap studi dan pengkajian kerukunan antarumat beragama, Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study ( 2008 )
- Penghargaan dari Simon Wiethemtal Center, Amerika Serikat ( 2008 )
- Penghargaan dari Mebal Valor, Amerika Serikat ( 2008 )

Sabtu, 26 Mei 2018

DAFTAR DOSEN MA.HAD ALY ASSHIDDIQIYAH JAKARTA

DAFTAR KYAI DAN DOSENKU DI MAHAD ALY JAKARTA


1. Dr.kh .noer muhammad iskandar Sq.


2. KYAI M SYUKRI GHOZALI SPDI.


3. KYAI H. DR.MUJIB QULYUBI




4. DR.KH.NASRULLAH JAZAM LC.


5.DR.Kh. tohirin lc.MA

6. Ustadz abdul kholiq MA.



7. KH.AGUS SHOHIB KHOIRONI LC.



8.ustadz Riadlul badi, MA

9.Ustadz MoH HATTA Lc.MA


10. Mrs arita tina



11. Ustadz ajat sudrajat lc. 










Jumat, 16 Maret 2018

Cara cepat kuasai kitab kuning dan bahasa arab




Assalamualaikum wr wb.
Ini adalah cara cepat menguasai kitab kuning.dan bahasa arab.
Segera datangi tempatnya dan buktikan segera.
Bersama pengasuh ponpes al umm wal abb kyai M syukri ghozali  brebes.